Wednesday, July 27, 2016

Islam: Kalau Mayoritas Menindas, Kalau Minoritas Beringas?

Pada 22 Juli 2016 lalu terjadi aksi penembakan brutal oleh pemuda keturunan Iran di Muenchen, Jerman. Setelah melakukan aksi brutalnya, sang pelaku lantas menembak dirinya. Dalam peristiwa ini, ada 9 orang yang menjadi korban tewas.

Apabila ditelusuri dari latar belakang SARA sang pelaku, dengan segera kecurigaan diarahkan pada kelompok (teroris) Islam.

Akhir-akhir ini marak terjadi serangan teror di Jerman. Bahkan pada Senin lalu ada serangan dengan pisau kapak oleh pemuda Afghanistan yang melukai 5 orang penumpang kereta api di kota Wurzburg, Jerman.

Pertanyaannya: benarkah kasus-kasus ini adalah aksi brutal kelompok Islam?

Bisa ya, bisa tidak. Tapi, apapun jawaban akhirnya, saat ini yang jadi tertuduh adalah kelompok-kelompok Islam.

Bagi sebagian umat Islam, tuduhan serampangan semacam ini dianggap sebagai bukti kebencian terhadap Islam. Mereka akan berargumen bahwa seharusnya ada praduga tak bersalah sebelum tuduhan dilancarkan. Lebih jauh lagi, bagi kelompok-kelompok ini, tuduhan ini adalah bukti betapa Barat membenci Islam, mendiskriminasi Islam, memperlakukan Islam secara tidak adil, menstereotipkan Islam, dan bahkan ingin menghancurkan Islam.

Sebagai umat Muslim, tentu saja siapapun tidak akan pernah suka kalau Islam selalu dianggap sebagai sumber kebiadaban di dunia.

Namun, marilah kita juga bersikap adil. Kita juga tidak bisa tidak mengesampingkan fakta bahwa memang ada kelompok-kelompok pembenci Islam yang terus menyebarkan kebencian terhadap Islam, namun menganggap bahwa tumbuhnya ketakutan terhadap Islam di Barat itu lahir sebagai bagian dari konspirasi anti-Islam juga sangat berlebihan.

Salah satu sumber prasangka negatif terhadap Islam saat ini adalah perilaku umat Islam sendiri. Dan kita, di Indonesia, turut menyumbang bagi pembentukan citra tersebut.

Citra Islam di dunia non-Islam bisa dibilang buruk. Ada anggapan bahwa umat Islam  cenderung menindas kalau menjadi mayoritas, dan cenderung beringas (termasuk menyebarkan terror) ketika menjadi minoritas.

Melalui berbagai media, masyarakat dunia melihat bagaimana di negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam, ada beragam penindasan terhadap kaum minoritas dan terhadap kaum yang dianggap tidak sejalan dengan arus utama Islam.

Contohnya bahkan tersebar luas. Yang terbaik tentu saja bagaimana yang terjadi di Arab Saudi, pembangunan gereja dan perayaan hari besar keagamaan non-Islam dipersulit atau bahkan dilarang sama sekali. Di Arab Saudi pula, kaum wanita dilarang aktif di ruang publik (tidak boleh mengemudi, tidak boleh terlibat aktif dalam kehidupan politik, dan sebagainya). 

Di negara seperti Pakistan dan Bangladesh, mereka yang berpindah agama bisa dibunuh atau diusir, kaum Syiah ditindas kaum Sunni. 

Di Malaysia, istilah ‘Allah’ tidak boleh digunakan oleh kalangan non-muslim. Di Indonesia, di berbagai tempat,  juga berlangsung pelarangan pembangunan gereja, penyerangan terhadap Syiah, penyerangan terhadap Ahmadiyah, penyerangan terhadap LGBT, pelarangan mengucapkan Selamat Natal, dan sebagainya. Contohnya bisa terus diperpanjang (sampai misalnya pewajiban jilbab bagi wanita), dan ini semua merupakan rangkaian ilustrasi yang menumbuhkan kesan bahwa ketika umat Islam menempati posisi mayoritas, umat Islam cenderung menindas kaum lemah.

Sebaliknya, ketika umat Islam menjadi minoritas, umat Islam itu terkesan cenderung menyerang kaum mayoritas, memusuhi kaum mayoritas, atau bahkan menumbuhkan terorisme.


Apa yang terjadi di Barat saat ini adalah contoh tentang terbangunnya citra buruk itu. Kaum muslim adalah kaum imigran. Di mata masyarakat Barat, Islam tumbuh di Barat karena kebaikan hati Barat. Di mata Barat, mayoritas umat Islam adalah kaum  imigran yang pindah ke Barat karena kesulitan hidup di tempat asal mereka atau karena berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di dunia baru (ironisnya, dunia baru ini malahan sering dianggap sebagai kafir).

Sungguh celaka, kalangan imigran ini sekarang dianggap malah membuat masalah. Kaum muslim di Barat ini hidup secara terisolasi dalam kantong-kantong komunitas imigran yang cenderung eksklusif. Lebih parah lagi, masyarakat muslim ini memiliki pemuka-pemuka Islam yang terus menerus menyuarakan ayat-ayat Al Quran, hadits, dan sunnah yang dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menyuburkan kebencian dan perlawanan terhadap Barat.

Di berbagai kota-kota besar di Eropa, hadir gerakan-gerakan masyarakat muslim yang secara kontinu dan terbuka menyuarakan semangat anti-demokrasi, kebencian terhadap peradaban Barat dan  seruan untuk menegakkan syariat. Ironisnya, kampanye anti Barat ini bisa mereka lakukan karena kebebasan berbicara adalah prinsip yang dihormati dalam sistem demokrasi Barat – yang mereka tentang itu.

Dari komunitas-komunitas minoritas semacam ini, lahir para pelaku kekerasan yang dengan semangat jihad berusaha menteror masyarakat Barat. Karena orang-orang ini tidak sanggup berhadapan dengan militer sesungguhnya, mereka dengan pengecut menembaki, membunuhi, membom komunitas-komunitas sipil. Bagi mereka, perilaku semacam ini adalah bagian dari perjuangan untuk menegakkan kebanaran dan melawan kemunkaran.

Apalagi dalam era dunia yang terbuka saat ini, mereka dengan mudah terhubung, belajar, bekerjasama dengan gerakan-gerakan bersenjata internasional yang berada di wilayah-wilayah konflik dunia Islam. Banyak pelaku teror adalah mereka yang sengaja belajar ke pusat-pusat terorisme, dan kemudian kembali untuk menyebarkan teror lebih jauh.

Pada titik ini, kita harus menekankan satu hal: kita memang jangan menganggap Islam identik dengan teorisme. Namun yang ingin disampaikan disini adalah, kalau terbangun ketakutan, kecurigaan dan salah paham tentang Islam di dunia, itu terjadi karena, antara lain, perilaku umat Islam sendiri. Jangan pertama-tama salahkan orang lain.

Karena itu, kalau umat Islam ingin dirinya dan ajaran yang diyakininya dihargai, umat Islam harus mengubah perilakunya.

Mari kita membicarakan soal Indonesia. Umat Islam Indonesia harus secara kolektif menghentikan dan mengecam segenap bentuk penindasan terhadap kaum minoritas atau pun terhadap kaum yang memiliki keyakinan berbeda dari arus utama.  Kalau kita masih terus membiarkan pelarangan gereja, pelarangan Ahmadiyah, penyerangan terhadap Syiah, penyerangan terhadap LGBT, dan semacamnya; kita pada dasarnya sedang mendukung terbentuknya citra Islam sebagai agama yang menindas.

Islam: Kalau Mayoritas Menindas, Kalau Minoritas Beringas?


Di sisi lain, umat Islam di Indonesia harus secara tegas mengecam dan tidak mendukung aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memanipulasi Islam di berbagai belahan dunia. Sungguh memprihatinkan, membaca komentar-komentar sebagian umat Islam yang memberikan pembenaran terhadap aksi teror di Nice, Istanbul, Orlando, Belgia, Norwegia, Saudi, Bangladesh, Baghdad, dan seterusnya.

Lazimnya, argumen yang dilontarkan untuk membela aksi teror itu adalah bahwa para teroris itu sebenarnya sekadar membalas kejahatan yang dilakukan Barat, atau bahwa aksi teror itu merupakan rekayasa yang dirancang Barat.

Kita tidak mengesampingkan fakta bahwa imperialisme Barat memang pernah dan terus terjadi dan saya tidak membantah bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS bisa jadi pada awalnya dibina dan dikembangkan oleh pemerintah-pemerintah Barat. Tapi itu semua bukan alasan untuk tidak mengutuk aksi kekerasan yang secara jelas memang dilakukan dengan simbol-simbol Islam.

Argumen yang hendak disampaikan  disini dilandaskan pada satu asumsi: terbangunnya citra buruk Islam sebenarnya turut dibentuk oleh perilaku umat Islam sendiri. Karena itu kalau kita marah dengan imej buruk ini, jawabannya adalah, umat Islam harus mengubah perilakunya.

Segenap argumen yang ditulis disini ini tidak relevan kalau ada pihak yang menyatakan bahwa dunia memang membutuhkan citra Islam yang keras, beringas dan menindas. Kalau itu harapannya, tentu saja tidak perlu umat Islam mengubah perilakunya.
(Ade Armando/Madina Online)

No comments:

Post a Comment